Teori Kepribadian Sehat
Nama : Cynthia Tamara
Kelas : 2PA14
NPM : 12514476
A. Aliran Psikoanalisa
Psikolanalisa merupakan
salah satu aliran besar dalam dunia psikologi, pencetus awalnya adalah Sigmund
Freud, berikut ini akan dijelaskan teori psikoanalisa dari Sigmund Freud dan
kemudian mengaitkannya dengan kepribadian yang sehat.
Psikoanalisa adalah cabang
ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi
fungsi dan perilaku psikologis manusia. Freud pada awalnya memang
mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan sebab-sebab gangguan
jiwa dan dengan konsep teorinya yaitu perilaku dan pikiran dengan mengatakan
bahwa kebanyakan apa yang individu lakukan dan pikirkan hasil dari keinginan
atau dorongan yang mencari pemunculan dalam perilaku dan pikiran.
Menurut teori
psikoanalisa, inti dari keinginan dorongan ini adalah bahwa mereka bersembunyi
dari kesadaran individual dan apabila dorongan – dorongan ini tidak dapat
disalurkan, dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan juga mengganggu
kesehatan mental yang disebut psikoneurosis. Dengan kata lain, mereka tidak
disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam
perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari” / ( unconscious
motivation ) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa.
Dalam teori
psikoanalisanya freud menjelaskan tentang struktur kepribadian individu,
struktur kepribadian tersusuan atas 3 sistem pokok, yakni :
1. Id
Id merupakan aspek
biologis yang strukturnya paling mendasar dari kepribadian. Id juga merupakan
sistem kepribadian yang asli, dimana id sebagai rahim tempat berkembangan ego
dan superego. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis ada sejak lahir
dan merupakan reservoir energi psikis. Id berhubungan erat dengan proses-proses
jasmaniah darimana id mendapatkan energinya. Id memiliki 2 proses yaitu proses
primer dan tindakan refleksi. Id terdiri dari dorongan - dorangan biologis
seperti makan, sex dan agresifitas.
2. Ego
Ego merupakan aspek
psikologis yang berkembang dari id yang struktur kepribadianya mengontrol
kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Ego timbul karena
kebutuhan – kebutuhan organisme memerlukan transaksi - transaksi yang sesuai
dengan dunia kenyataan objektif. Perbedaan pokok antara id dan ego adalah id
hanya mengenal kenyataan subjektif jiwa sedangkan ego membedakan antara hal -
hal yang terdapat dalam batin dan hal - hal yang terdapat dalam dunia luar. Ego
disebut juga sebagai eksekutif kepribadian karena ego mengontrol pintu-pintu
arah tindakan, memilih segi lingkungan kemana ia akan membri respon dan
memutuskan insting mana yang akan dipuaskan.
3. Superego
Superego merupakan aspek
sosiologis yang merefleksikan nilai - nilai sosial dan menyadarkan individu
atas tuntutan moral. Gambaran kesadaran akan nilai-nilai dan moral masyarakat
yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orangtua, guru, dan orang lain
kepada anak. Karena itu pada dasarnya superego adalah hati nurani seseorang
yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego
mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.
Freud juga membagi
aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh mana
individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :
1. Tingkat Sadar Atau Kesadaran ( Conscious Level )
Pada tingkat ini
aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan
lain - lain.
2. Tingkat Prasadar ( Preconscious Level )
Pada tingkat ini
aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya
apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan
yang telah dipelajari, dan lain - lain.
3. Tingkat Tidak Disadari ( Unconscious Level )
Pada tingkat ini
aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu.
Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral,
pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional,
dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan
lain-lain.
Meskipun masing-masing
bagian dari kepribadian total ini mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip
kerja, dinamisme dan mekanismenya sendiri. Namun mereka berinteraksi begitu
erat satu sama lain sehingga sulit (tidak mungkin) untuk memisah - misahkan
pengaruhnya dan menilai sumbangan relatifnya terhadap tingkah laku manusia.
Tingkah laku hampir selalu merupakan produk dari interaksi diantara ketiga
sistem tersebut jarang salah satu sistem berjalan terlepas dari kedua sistem
lainnya.
Kepribadian yang sehat menurut
psikoanalisis :
a. Menurut freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut
pola perkembangan yang ilmiah.
b. Kemampuan dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar.
c. Mental yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan
ego.
d. Tidak mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya.
e. Dapat menyesuaikan keadaan ddengan berbagai dorongan dan keinginan.
B. Aliran Behavioristik
Aliran psikologi
behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John
B.Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur
subjek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan
berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir
sebagai reaksi terhadap introspeksionisme ( yang menganalisis jiwa manusia
berdasarkan laporan - laporan subjektif ) dan juga psikoanalisis ( yang
berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak ).
Behaviorisme secara
keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari
psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan
demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen
seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Berarti juga behaviorisme sudah
melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan
masih memfokuskan diri pada proses - proses mental. Behaviorisme ingin
menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan
diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya
manusia tidak membawa bakat apa - apa.
Manusia akan berkembang berdasarkan
stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk
akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia
baik. Kaum behavioris memusatkan dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh -
sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka, semua
peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat,
tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua pengertian tersebut
dirumuskan secara subjektif.
Fungsionalisme Menjadi
dasar bagi behaviorisme melalui pengaruhnya pada tokoh utama behaviorisme,
yaitu Watson. Watson adalah murid dari Angell dan menulis disertasinya di University
of Chicago. Dasar pemikiran Watson yang memfokuskan diri lebih proses
mental daripada elemen kesadaran, fokusnya perilaku nyata dan pengembangan
bidang psikologi pada animal psychology dan child
psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme. Meskipun demikian,
Watson menunjukkan kritik tajam pada fungsionalisme.
Aliran behaviorisme memperlakukan manusia
sebagai mesin, yaitu di dalam suatu sistem kompleks yang bertigkah laku menurut
cara - cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu
digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan
sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas,
seperti alat pengatur panas.
Aliran behaviorisme mempunyai 3 ciri
penting, yaitu :
1. Menekankan pada respon - respon yang dikondisikan sebagai elemen dari
perilaku.
2. Menekankan pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak
dipelajari. Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat
bawaan.
3. Memfokuskan pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami
antara perilaku manusia dan perilaku binatang. Manusia dapat belajar banyak
tentang perilakunya sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.
Menurut penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan
yaitu berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respon terhadap
rangsangan itu.
Jadi menurut
Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap
stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang
bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia
tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian yang sehat menurut
behavioristik :
1. Memberikan respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan
lingkungannya.
2. Bersifat sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman sangat
dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan
bawaan sendiri.
3. Menekankan pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang
objektif.
C. Aliran Humanistik
Aliran Humanistik
merupakan kontribusi besar dari psikolog - psikolog terkenal seperti Carl
Rogers, Goldon Allport dan Abraham Maslow. Humanistik muncul sebagai gerakan
besar psikologi pada tahun 1950 – 1960-an. Humanistik menegaskan adanya
keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri.
Manusia mempunyai potensi di dalam dirinya untuk berkembang sehat dan kreatif.
Kreativitas adalah potensi semua orang yang tidak memerlukan bakat dan
kemampuan khusus.
Aliran ini mengkritisi aliran Behaviorisme
yang menekankan pada stimulasi tingkah laku yang teramati. Menurut aliran
Humanistik, pandangan Behaviorisme terlalu menyederhankan dan melalaikan
manusia dari pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks, nilai-nilai
cinta kasih atau kepercayaan, juga potensi dan aktualisasi diri. Humanistik
sangat mementingkan self (diri) manusia sebagai pemersatu yang
menerangkan pengalaman - pengalaman subjektif individual.
Aliran Humanistik juga
tidak menyetujui pandangan Psikoanalisis yang cenderung pesimistik dan
pandangan Behaviorisme yang cenderung memandang manusia sebagai netral (tidak
baik dan tidak jahat). Menurut aliran Humanistik, Psikoanalisis dan
Behaviorisme telah salah dalam memandang tingkah laku manusia, yaitu sebagai
tingkah laku yang ditentukan oleh kekuatan - kekuatan diluar kekuasaanya (entah
sadar entah tidak). Humanistik memandang manusia pada hakikatnya adalah baik.
Perbuatan - perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri
dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan
frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik tersebut. Seorang manusia tidak
dipandang sebagai mesin otomat yang pasif, tetapi sebagi peserta aktif yang
mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang
lain. Aliran Humanistik memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir
secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih
potensi maksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya
serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku
mereka.
Menurut aliran
humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan
potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan hanya mengandalakan
pengalaman - pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan memberikan diri untuk
belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar sehingga menghasilkan
respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian
sehat adalah mengatualisasikan diri, bukan respon pasif buatan atau individu
yang terimajinasikan oleh pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri
adalah mampu mengedepankan keunikan dalam pribadi setiap individu, karena
setiap individu memiliki hati nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala
sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Humanistik menegaskan adanya keseluruhan
kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri. Bagi ahli -
ahli psikologi humanistik, manusia jauh lebih banyak memiliki potensi. Manusia
harus dapat mengatasi masa lampau, kodrat biologis, dan ciri - ciri lingkungan.
Manusia juga harus berkembang dan tumbuh melampaui kekuatan-kekuatan negatif
yang secara potensial menghambat.
Gambaran ahli psikologi
humanistik tentang kodrat manusia adalah optimis dan penuh harapan. Mereka percaya
terhadap kapasitas manusia untuk memperluas, memperkaya, mengembangkan, dan
memenuhi dirinya, untuk menjadi semuanya menurut kemampuan yang ada. Aliran
Humanistik juga memfokuskan diri pada kemampuan manusia untuk berfikir secara
sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya guna meraih
potensimaksimal. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya
serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilakunya.
Ada empat ciri psikologi yang berorientasi
Humanistik, yaitu:
1. Memusatkan perhatian pada person mengalami, dan karenanya berfokus pada
pengalaman sebagai fenomena primer dalam mempelajari manusia.
2. Member tekanan pada kualitas-kualitas yang khas manusia, seperti
kreativitas, akutalisasi diri, sebagai lawan pandang tentang manusia yang
mekanistis dan reduksionistis.
3. Menyadarkan diri pada kebermaknaan dalam memilih masalah - masalah yang
akan dipelajari dan prosedur - prosedur penelitian yang akan digunakan.
4. Memberikan perhatian penuh dan meletakkan nilai yang tinggi pada kemuliaan
dan martabat manusia serta tertarik pada perkembangan potensi yang inheren pada
setiap individu. Selain Maslow sebagai tokoh dalam Psikologi Humanistik, juga
Carl Rogers, yang terkenal dengan client - centered
therapy.
D.
Gordon Allport
Kepribadian yang matang Oleh Gordon
Allport:
Saat ini teori-teori Allport
(tentang kepribadian yang sehat) tetap relevan. Berikut adalah tujuh kriteria
dari Allport tentang sifat-sifat khusus kepribadian yang sehat:
a. Perluasan Perasaan Diri
Ketika
seseorang menjadi matang, ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri.
Tidak cukup sekadar berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang di luar diri.
Lebih dari itu, ia harus memiliki partisipasi yang langsung dan penuh, yang
oleh Allport disebut "partisipasi otentik". Dalam pandangan Allport,
aktivitas yang dilakukan harus cocok dan penting, atau sungguh berarti bagi
orang tersebut. Jika menurut kita pekerjaan itu penting, mengerjakan pekerjaan
itu sebaik-baiknya akan membuat kita merasa enak, dan berarti kita menjadi
partisipan otentik dalam pekerjaan itu. Hal ini akan memberikan kepuasan bagi
diri kita. Orang yang semakin terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas,
orang, atau ide, ia lebih sehat secara psikologis. Hal ini berlaku bukan hanya
untuk pekerjaan, melainkan juga hubungan dengan keluarga dan teman, kegemaran,
dan keanggotaan dalam politik, agama, dan sebagainya.
b. Relasi Sosial yang Hangat
Allport
membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain, yaitu
kapasitas untuk mengembangkan keintiman dan untuk merasa terharu. Orang yang
sehat secara psikologis mampu mengembangkan relasi intim dengan orangtua, anak,
pasangan, dan sahabat. Ini merupakan hasil dari perasaan perluasan diri dan
perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik. Adaperbedaan hubungan
cinta antara orang yang neurotis (tidak matang) dan yang berkepribadian sehat
(matang). Orang-orang neurotis harus menerima cinta lebih banyak daripada yang
mampu diberikannya kepada orang lain. Bila mereka memberikan cinta, itu
diberikan dengan syarat-syarat. Padahal, cinta dari orang yang sehat adalah
tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.
Jenis kehangatan yang lain, yaitu
perasaan terharu, merupakan hasil pemahaman terhadap kondisi dasar manusia dan
perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang sehat memiliki kapasitas untuk
memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan, dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan
manusia.
c. Keamanan Emosional
Kualitas
utama manusia sehat adalah penerimaan diri. Mereka menerima semua segi
keberadaan mereka, termasuk kelemahan-kelemahan, dengan tidak menyerah secara
pasif terhadap kelemahan tersebut. Selain itu, kepribadian yang sehat tidak
tertawan oleh emosi-emosi mereka, dan tidak berusaha bersembunyi dari
emosi-emosi itu. Mereka dapat mengendalikan emosi, sehingga tidak mengganggu
hubungan antarpribadi. Pengendaliannya tidak dengan cara ditekan, tetapi
diarahkan ke dalam saluran yang lebih konstruktif. Kualitas lain dari
kepribadian sehat adalah "sabar terhadap kekecewaan". Hal ini
menunjukkan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan atas
berbagai keinginan atau kehendak. Mereka mampu memikirkan cara yang berbeda
untuk mencapai tujuan yang sama. Orang-orang yang sehat tidak bebas dari
perasaan tak aman dan ketakutan. Namun, mereka tidak terlalu merasa terancam
dan dapat menanggulangi perasaan tersebut secara lebih baik daripada kaum
neurotis.
d. Persepsi
Realistis
Orang-orang
sehat memandang dunia secara objektif. Sebaliknya, orang-orang neurotis
kerapkali memahami realitas disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, dan
ketakutan mereka sendiri. Orang sehat tidak meyakini bahwa orang lain atau situasi
yang dihadapi itu jahat atau baik menurut prasangka pribadi. Mereka memahami
realitas sebagaimana adanya.
e. Keterampilan
dan Tugas
Allport
menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri di dalam
pekerjaan tersebut. Kita perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan
pekerjaan kita, dan lebih dari itu harus menggunakan keterampilan itu secara
ikhlas dan penuh antusiasme. Komitmen pada orang sehat atau matang begitu kuat,
sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan ego. Dedikasi terhadap
pekerjaan berhubungan dengan rasa tanggung jawab dan kelangsungan hidup yang
positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas
untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis tanpa
melakukan pekerjaan penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan
keterampilan.
f. Pemahaman
Diri
Memahami
diri sendiri merupakan suatu tugas yang sulit. Ini memerlukan usaha memahami
diri sendiri sepanjang kehidupan secara objektif. Untuk mencapai pemahaman diri
yang memadai dituntut pemahaman tentang dirinya menurut keadaan sesungguhnya.
Jika gambaran diri yang dipahami semakin dekat dengan keadaan sesungguhnya,
individu tersebut semakin matang. Demikian juga apa yang dipikirkan seseorang
tentang dirinya, bila semakin dekat (sama) dengan yang dipikirkan orang-orang
lain tentang dirinya, berarti ia semakin matang. Orang yang sehat terbuka pada
pendapat orang lain dalam merumuskan gambaran diri yang objektif. Orang yang
memiliki objektivitas teradap diri tak mungkin memproyeksikan kualitas
pribadinya kepada orang lain (seolah orang lain negatif). Ia dapat menilai
orang lain dengan seksama, dan biasanya ia diterima dengan baik oleh orang
lain. Ia juga mampu menertawakan diri sendiri melalui humor yang sehat.
g. Filsafat
Hidup
Orang yang
sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang. Ia
memiliki perasaan akan tujuan, perasaan akan tugas untuk bekerja sampai tuntas
sebagai batu sendi kehidupannya. Allport menyebut dorongan-dorongan tersebut
sebagai keterarahan (directness). Keterarahan itu membimbing semua segi
kehidupan seseorang menuju suatu atau serangkaian tujuan, serta memberikan
alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan yang
bermakna. Tanpa itu mungkin kita mengalami masalah kepribadian.
E. Carl Rogers
Memahami dan menjelaskan teori kepribadian
sehat menurut carl rogers
meliputi :
1. Perkembangan
kepribadian “self”
2. Peranan positive regard dalam
pembentukan kepribadian individu
3. Ciri-ciri
orang yang berfungsi sepenuhya
A. Perkembangan
kepribadian “self”
Inti dari
teori- teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk
mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah- masalah psikisnya
asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan
individu untuk aktualisasi diri. Rogers menerima istilah self dari pengalaman-
pengalaman realita masing- masing individu. Dalam setiap bertambahnya umur
,anak bisa berubah sifat dan perilaku. Dan seorang ibu bisa memperhatikan
perkembangan anak, dari waktu ke waktu dan seorang ibulah yang memelihara dan
mendidiknya dan tidak di serahkan kepada baby sister
B. Peranan positive regard dalam
pembentukan kepribadian individu
Setiap
manusia memiliki kebutuhan basic akan kehangatan, penghargaan,
penerimaan, pengagungan, cinta, kasih, dan sayang dari orang lain. Kebutuhan
ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi
menjadi 2 yaituconditional positive regard (bersyarat) dan unconditional
positive regard (tak bersyarat). Pribadi yang berfungsi sepeuhnya
adalah pribadi yang mengalami pengharagaan positif tak bersyarat. Mengapa?
Karena ini penting, dihargai, diterima, disayangi, dicintai sebagai seseorang
yang berarti tentu akan menerima dengan penuh kepercayaan.
C. Ciri-ciri
orang yang berfungsi sepenuhnya
Menurut pendapat Rogers
Pertama,
orang yang sehat secara psikologis akan lebih mudah beradaptasi
Karena orang psikologis bisa melihat
dan menilai sifat-sifat seeorang maka dari itu dia mudah beradaptasi. Kedua,
manusia –manusia masa depan akan lebih terbuka atas
pengalaman-pengalaman mereka, manusia masa depan akan lebih mendengar
dirinya dan memperhatikan perasaan bahagia, marah,kecewa,ketakutan, dan
kelembutan mereka. Ketiga, dari manusia masa depan adalah kecenderungan untuk
hidup sepenuhnya pada masa sekarang. Merujuk kecenderungan
untuk hidup pada masa sekarang sebagaikehidupan eksistensial. Manusia masa
depan tidak mempunyai kebutuhan untuk menipu diri mereka sendiri ataupun alasan
untuk mencoba membuat orang lain kagum. Keempat, manusia masa depan akan tetap
percaya terhadap kemampuan diri mereka untuk merasakan hubungan yang
hamonis dengan orang lain. Kelima, manusia masa depan akan lebih
terintegrasi, lebih utuh, anpa batasan-batasan buatan antara proses kognitif
yang dilakukan secara sadar ataupun yang tidak. Keenam, manusia
masa depan mempunyai kepercayaan pada kemanusiaan. Mereka
tidak akan menyakiti orang lain hanya untuk kepentingan pribadi; peduli pada
orang lain dan akan siap membantu apabila diperlukan; akan mengalami kemarahan,
tetapi dapat dipercaya bahwa mereka tidak akan menyerang secara tidak asuk akal
melawan orang lain; serta akan merasa agresi, tetapi akan mengalihkannya kea
rah yang sepatutnya .
Terakhir,
karena manusia masa depan terbuka dengan semua pengalaman, mereka akanlebih
menikmati kekayaan hidup dri pada orang lain. Mereka tidak mendistori
stimulus internal ataupun menahan emosi mereka .
Rogers meberikan lima sifat orang
yang berfungsi sepenuhnya :
a. Keterbukaan
pada pengalaman
b. Kehidupan
eksistensial
c. Kepercayaan
terhadap organism sendiri
d.
Perasaan bebas
e. Kreatifitas
F. Abraham Maslow
Teori Kepribadian Abraham Maslow:
1) Individu sebagai Kesatuan Terpadu
Pertama-tama
Maslow menekankan bahwa individu merupakan kesatuan yang terpadu dan
terorganisasi, sehingga motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu adalah motivsi
individu seutuhnya bukan bagian darinya. Menurut maslow manusia harus
diselidiki sebagai sesuatu yang totalitas, sebagai suatu system, setiap bagian
tidak dapat dipisahkan dengan bagian yang lain. Pernyataan ini hampir menjadi
aksioma yang diterima oleh semua orang, yang kemudian sering dilupakan dan
diabaikan tatkala seseorang melakukan penelitian. Penting sekali untuk selalu
disadarkan kembali hal ini sebelum seseorang melakukan eksperimen atau menyusun
suatu teori motivasi yang sehat.
2) Hirarki Kebutuhan
Maslow
mengembangkan teori tentang bagaimana semua motivasi saling berkaitan. Ia
menyebut teorinya sebagai “hirarki kebutuhan”. Kebutuhan ini mempunyai tingkat
yang berbeda-beda. Ketika satu tingkat kebutuhan terpenuhi atau mendominasi,
orang tidak lagi mendapat motivasi dari kebutuhan tersebut.. Maslow membuat
tingkatan kebutuhan manusia menjadi lima karakteristik. sebagai berikut:
a. Kebutuhan fisiologis
Kebutuhan
fisiologis adalah kebutuhan manusia yang paling mendasar untuk mempertahankan
hidupnya secara fisik, yaitu kebutuhan akan makanan, minuman, tempat tinggal,
seks, tidur, istirahat, dan udara. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan,
harga diri, dan cinta, pertama-tama akan mencari makanan terlebih dahulu. Bagi
orang yang berada dalam keadaan lapar berat dan membahayakan, tak ada minat
lain kecuali makanan. Tidak diragukan lagi bahwa kebutuhan fisiologis ini
adalah kebutuhan yang paling kuat dan mendesak. Ini berarti bahwa pada diri
manusia yang sangat merasa kekurangan segala-galanya dalam kehidupannya, besar
sekali kemungkinan bahwa motivasi yang paling besar ialah kebutuhan fisiologis
dan bukan yang lain-lainnya. Dengan kata lain, seorang individu yang melarat
kehidupannya, mungkin sekali akan selalu termotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan
ini
b. Kebutuhan akan rasa aman
Setelah
kebutuhan dasariah terpuaskan, muncullah apa yang digambarkan Maslow sebagai
kebutuhan akan rasa aman atau keselamatan. Kebutuhan ini menampilkan diri dalam
kategori kebutuhan akan kemantapan, perlindungan, kebebasan dari rasa takut,
cemas dan kekalutan, kebutuhan akan struktur, ketertiban, hukum, batas-batas,
dan sebagainya. Kebutuhan ini dapat kita amati pada seorang anak. Biasanya
seorang anak membutuhkan suatu dunia atau lingkungan yang dapat diramalkan.
Seorang anak menyukai konsistensi dan kerutinan sampai batas-batas tertentu.
Jika hal-hal itu tidak ditemukan maka ia akan menjadi cemas dan merasa tidak
aman. Orang yang merasa tidak aman memiliki kebutuhan akan keteraturan dan
stabilitas serta akan berusaha keras menghindari hal-hal yang bersifat asing
dan tidak diharapkan. Untuk pribadi yang sehat, kebutuhan rasa aman tidak
berlebih-lebihan atau selalu mendesak. Kebanyakan diantara kita ini tidak
menyerah atau sama sekali tunduk kepada kebutuhan-kebutuhan rasa aman, tetapi
dalam pada itu juga kita merasa tidak puas kalau jaminan dan stabilitas sama
sekali tidak ada.
c. Kebutuhan sosial
Setelah
terpuaskan kebutuhan akan rasa aman, maka kebutuhan sosial yang mencakup
kebutuhan akan rasa memiliki-dimiliki, saling percaya, cinta, dan kasih sayang
akan menjadi motivator penting bagi perilaku. Pada tingkat kebutuhan ini,belum
pernah sebelumnya, orang akan sangat merasakan tiadanya seorang sahabat,
kekasih, isteri, suami, atau anak-anak. Ia haus akan relasi yang penuh arti dan
penuh kasih dengan orang lain pada umumnya. Ia membutuhkan terutama tempat
(peranan) di tengah kelompok atau lingkungannya, dan akan berusaha keras untuk
mencapai dan mempertahankannya. Orang di posisi kebutuhan ini bahkan mungkin
telah lupa bahwa tatkala masih memuaskan kebutuhan akan makanan, ia pernah
meremehkan cinta sebagai hal yang tidak nyata, tidak perlu, dan tidak penting.
Sekarang ia akan sangat merasakan perihnya rasa kesepian itu, pengucilan
sosial, penolakan, tiadanya keramahan, dan keadaan yang tak menentu. Maslow
percaya bahwa makin lama makin sulit memuaskan kebutuhan akan memiliki dan
cinta kerena mobilitas kita.begitu sering kita berganti rumah, tetangga, kota,
bahkan pathner, sehingga kita tidak dapat berakar. Kita tidak cukup lama berada
disuatu tempat untuk mengembangkan perasaan yang memiliki. Banyak orang dewasa
merasakan kesepian dan terisolasi, meskipum mereka hidup ditengah-tengah orang
banyak.
d. Kebutuhan akan penghargaan
Maslow
membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan
eksternal. Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri,
kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi,
ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal)
menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan,
ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang
yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri. Dengan demikian ia akan
lebih berpotensi dan produktif. Sebaliknya harga diri yang kurang akan
menyebabkan rasa rendah diri, rasa tidak berdaya, bahkan rasa putus asa serta
perilaku yang neurotik. Kebebasan atau kemerdekaan pada tingkat kebutuhan ini
adalah kebutuhan akan rasa ketidakterikatan oleh hal-hal yang menghambat
perwujudan diri. Kebutuhan ini tidak bisa ditukar dengan sebungkus nasi goreng
atau sejumlah uang karena kebutuhan akan hal-hal itu telah terpuaskan.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Menurut
Maslow, setiap orang harus berkembang sepenuh kemampuannya. Kebutuhan manusia
untuk tumbuh berkembang, dan menggunakan kemampuannya disebut oleh Maslow
sebagai aktualisasi diri. Maslow juga menyebut aktualisasi diri sebagai hasrat
untuk makin menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri, menjadi apa menurut
kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini biasanya muncul
setelah kebutuhan akan cinta dan akan penghargaan terpuaskan secara
memadai. Kebutuhan akan aktualisasi diri ini merupakan aspek terpenting
dalam teori motivasi Maslow. Dewasa ini bahkan sejumlah pemikir menjadikan
kebutuhan ini sebagai titik tolak prioritas untuk membina manusia
berkepribadian unggul. Belakangan ini muncul gagasan tentang perlunya jembatan
antara kemampuan majanerial secara ekonomis dengan kedalaman spiritual. Manajer
yang diharapkan adalah pemimpin yang handal tanpa melupakan sisi kerohanian.
Dalam konteks ini, piramida kebutuhan Maslow yang berangkat dari titik tolak
kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri diputarbalikkan. Dengan demikian
perilaku organisme yang diharapkan bukanlah perilaku yang rakus dan
terus-menerus mengejar pemuasan kebutuhan, melainkan perilaku yang lebih suka
memahami daripada dipahami, memberi daripada menerima.
Konsep yang
mendasar bagi teori maslow adalah manusia di motivasikan oleh sejumlah
kebutuhan dasar yang bersifat sama untuk seluruh spesies, tidak berubah dan
berasal dari sumber genetis atau naluriah. Kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak
semata-mata bersifat fisiologis tetapi juga psikologis. Kebutuhan-kebutuhan itu
merupakan inti dari kodrat manusia, hanya saja manusia lemah dan mudah
diselewengkan dan dikuasai oleh proses belajar, kebiasaan atau tradisi yang
keliru. Kebutuhan-kebutuhan itu adalah aspek instrinsik kodrat manusia yang
tidak akan mati karena kebudayaan. Suatu kebutuhan dapat dikatakan sebagai
kebutuhan dasar jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1. ketidak-hadirannya
menimbulkan penyakit
2. kehadirannya mencegah
timbulnya penyakit
3. pemulihannya menyembuhkan
penyakit
4. dalam situasi tertentu yang sangat komplek dan
dimana orang bebas memilih, orang yang sedang berkekurangan ternyata
mengutamakan kebutuhan itu dibandingkan jenis-jenis kepuasan lainnya.
5. Kebutuhan itu tidak aktif,
lemah atau secara fungsional tidak terdapat pada orang yang sehat.
Suatu catatan yang diberikan oleh
Maslow bahwa meskipun kebutuhan manusia bertingkat-tingkat, namun jangan
terlalu kaku menanggapinya, mungkin saja orang yang belum terpenuhi kebutuhan
makanannya juga menginginkan rasa aman, atau orang yang belum sempurna rasa
amannya juga menginginkan kasih sayang atau orang pada tingkat rendah mungkin
akan terpuaskan hanya dengan makanan saja dan seterusnya.
Kepribadian sehat menurut Maslow:
Maslow berpendapat
bahwa seseorang akan memiliki kepribadian yang sehat, apabila dia telah mampu
untuk mengaktualisasikan dirinya secara penuh (self actualizing person). Dia
mengemukakan teori motivasi bagi self actualizinga-needs person, dengan nama
metamotivation, meta-needs B-motivation, atau being values (kebutuhan untuk
berkembang). Sementara motivasi bagi orang yang tidak mampu mengaktualisasikan
dirinya dinamai D-motivation atau deficiency. Di
bawah ini ciri-ciri dari metaneeds dan metapologi :
-
Metanees :
Sikap percaya, bijak dan baik, indah (estetis), kesatuan (menyeluruh), energik
dan optimis, pasti, lengkap, adil dan altruis, berani, sederhana (simple).
-
Metapologis
: Tidak percaya, sinis dan skeptic, benci dan memuakkan, vulgar dan mati rasa,
disintegrasi, kehilangan semangat hidup, pasif dan pesimis, kacau dan tidak
dapat diprediksi, tidak lengkap dan tidak tuntas, suka marah-marah, tidak adil
dan egois, rasa tidak aman dan memerlukan bantuan, sangat komplek dan
membingungkan.
Mengenai self-actualizing
person,atau orang yang sehat mentalnya, Maslow mengemukakanciri-cirinya
sebagai berikut:
1) Mempersepsi kehidupan atau
dunianya sebagaimana apa adanya, dan merasa nyaman dalam menjalaninya
2) Menerima dirinya sendiri,
orang laindan lingkungannya.
3) Bersikap spontan, sederhana,
alami, bersikap jujr, tidak dibuat-buat dan terbuka.
4) Mempunyai komitmen atau
dedikasi untuk memecahkan masalah di luar dirinya (yang dialami orang lain).
5) Bersikap mandiri atau
independen.
6) Memiliki apresiasi yang segar
terhadap lingkungan di sekitarnya
7) Mencapai puncak pengalaman,
yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami kegembiraan yang luar biasa.
Pengalaman ini cenderung lebih bersifat mistik atau keagamaan
8) Memiliki minat social,
simpati, empati dan altruis
9) Sangat senang menjalin
hubungan interpersonal (persahabatan atau persaudaraan) dengan orang lain
10) Bersikap demokratis
(toleran, tidak rasialis, dan terbuka)
11) Kreatif (fleksibel,
spontan, terbuka dan tidak takut salah).
Pandangan
maslow tentang hakikat manusia yaitu manusia bersifat optimistik, bebas
berkehendak, sadar dalam memilih, unik, dapat mengatasi pengalaman masa kecil,
dan baik. Menurut dia kepribadian itu dipengaruhi oleh hereditas dan
lingkungan. Dalam kaitannya dengan peran lingkungan, khususnya di sekolah dalam
mengembangkan self-actualization, Maslow mengemukakan beberapa upaya yang
sebaiknya membantu siswa menemukan identitasnya (jati dirinya) sendiri.
Diantaranya:
1) Membantu siswa untuk
mengeksplorasi pekerjaan
2) Membantu siswa untuk
memehami keterbatasan (nasib) dirinya
3) Membantu siswa untuk
memperoleh pemahaman tentang nilai nilai
4) Membantu siswa agar memahami
bahwa hidup ini berharga
5) Mendorng siswa agar mencapai
pengalaman puncak dalam kehidupannya
6) Memfasilitasi siswa agar
dapat memuaskan kebutuhan dasarnya (rasa aman, rasa berharga, dan rasa diakui).
G. Erich Fromm
Erich Fromm
yang pernah menuliskan “kita adalah orang-orang yang harus menjadi sesuai
dengan keperluan-keperluan masyarakat dimana kita hidup”. Karena
kekuatan-kekuatan sosial dan kultur begitu penting, fromm percaya bahwa perlu
menganalisis struktur masyarakat. Jadi kodrat masyarakat adalah kunci untuk
memahami dan mengubah kepribadian manusia. Apakah suatu kepribadian itu sehat atau
tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang membantu atau mengambat pertumbuhan
dan perkembangan manusia yang positif.
Fromm
memberikan suatu gambaran yang jelas tentang kepribadian yang sehat. Orang yang
demikian mencintai sepenuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran
yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara objektif, memiliki
suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar didunia,
subjek atau pelaku dari diri dan nasib, dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang. Akan
tetapi ada salah satu pengertian dimana kepribadian sehat dan produktif
benar-benar menghasilkan sesuatu dan merupakan hasil yang sangat penting dari
individu, yakni diri. Orang-orang sehat menciptakan diri mereka dengan
melahirkan semua potensi mereka, dengan menjadi semua menurut kesanggupan
mereka dan memenuhi semua kapasitas mereka.
· Pengertian
dasar dari teori fromm
Fromm adalah
seorang teoretikus kepribadian yang handal, beliau sangat dipengaruhi oleh
tulisan-tulisan Karl Marx. Tulisan-tulisan fromm dipengaruhi oleh
pengetahuannya yang luas tentang sejarah, sosiologi, kesusasteraan dan
filsafat. Tema dasar dari semua tulisan Fromm adalah orang yang merasa
kesendirian dan terisolasi karena ia dipisahkan dari alam dan orang-orang lain.
Keadaan isolasi ini tidak ditemukan dalam semua spesies binatang hal itu adalah
situasi khas manusia. Anak, misalnya, bebas dari ikatan-ikatan primer dengan
orang tuanya, tetapi dengan akibat bahwa ia merasa terisolasi dan tak berdaya.
Dalam
teorinya tentang irasionalitas manusia, fromm mengembangkan dan memperhalus
teorinya sendiri tentang kepribadian dalam suatu seri buku-buku yang sangat
populer pada saat itu. Sistemnya menggambarkan kepribadian sebagai suatu yang
ditentukan oleh kekuatan-kekuatan sosial yang mempengaruhi individu dalam masa
kanak-kanak dan juga oleh kekuatan-kekuatan historis yang telah mempengaruhi
perkembangan spesies manusia.
Fromm
menulis “kita adalah orang-orang yang harus menjadi sesuai dengan
keperluan-keperluan masyarakat di mana kita hidup ”. karena kekuatan sosial dan
kultural begitu penting, from percaya bahwa perlu menganalisis struktur
masyarakat (masa lampau dan sekarang) dikarenakan memahami struktur
anggota-anggota individu dalam masyarakat itu. Jadi, kodrat masyarakat adalah
kunci untuk memahami dan mengubah kepribadian manusia. Sebagaimana halnya
kebudayaan, maka sama halnya dengan individu. Apakah suatu kepribadian itu
sehat atau tidak sehat tergantung pada kebudayaan yang membantu atau menghambat
pertumbuhan dan perkembangan manusia yang positif.
Fromm
melihat kepribadian hanya sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia
percaya bahwa kesehatan jiwa harus didefinisikan menurut bagaimana baiknya
masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu,
bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan
masyarakat. Kerena itu kesehatan psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha
individu jika dibandingkan dengan usaha masyarakat. Faktor kuncinya ialah
bagaimana suatu masyarakat memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan manusia.
Suatu
masyarakat tidak sehat atau sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan
dalam anggota-anggotanya, dan menghalangi pertumbuhan yang terjadi dalam setiap
individu. Suatu masyarakat membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta
satu sama lainnya, menjadi produktif dan kreatif, mempertajam dan memperhalus
tenaga pikiran dan objektifitasnya dan mempermudah timbulnya individu-individu
yang berfungsi sepenuhnya.
Fromm
percaya bahwa kita semua memiliki suatu perjuangan yang melekat pada diri kita
untuk kesehatan dan kesejahteraan emosional, suatu kecenderungan bawaan untuk
kehidupan yang produktif, untuk keharmonisan dalam cinta. Dengan adanya
kesempatan, kecenderungan yang diwariskan ini akan berkembang, yang memberikan
individu berkembang untuk menggunakan sepenuhnya potensi yang ada.
Menurut
fromm, kita adalah makhluk yang unik dan penyendiri. Sebagai akibat dari
evolusi hewan yang sederhana, kita tidak bersatu dengan alam; kita telah
mengatasi alam. Tidak seperti tingkah laku binatang, tingkah laku kita tidak
terkait pada mekanisme-mekanisme instinktif. Akan tetapi perbedaaan yang sangat
penting antara manusia dengan binatang adalah terletak pada kemampuan kita akan
kesadaran diri, pikiran, dan khayal.
- Kepribadian
yang sehat menurut Fromm
Fromm
memberikan suatu gambaran jelas tentang kepribadian yang sehat. Orang yang
demikian mencintai seutuhnya, kreatif, memiliki kemampuan-kemampuan pikiran
yang sangat berkembang, mengamati dunia dan diri secara obejektif, memiliki
suatu perasaan identitas yang kuat, berhubungan dengan dan berakar di dunia,
subjek atau pelaku dari diri dan takdir, dan bebas dari ikatan-ikatan sumbang.
Fromm
menyebutkan kepribadian yang sehat: orientasi produktif ,
yakni suatu konsep yang serupa dengan kepribadian yang matang dari Allport, dan
orang yang mengaktualisasikan diri dari Maslow. Konsep itu menggambarkan
penggunaan yang sangat penuh atau realisasi dari potensi manusia. Dengan
menggunakan kata “orientasi” , Fromm menunjukan kata itu merupakan suatu sikap
umum atau segi pandangan yang meliputi semua segi kehidupan, respons-respons intelektual,
emosional, dan sensoris terhadap orang-orang, benda-benda, dan
peristiwa-peristiwa di dunia dan juga terhadap diri sendiri.
Empat segi
tambahan dalam kepribadian yang sehat dapat membantu menjelaskan apa yang
dimaksudkan Fromm dengan orientasi produktif. Keempat segi tambahan itu adalah
cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagian dan suara hati.
a. Cinta yang
produktif adalah suatu hubungan manusia yang bebas dan sederajat dimana
rekan-rekan dapat mempertahankan individualitas mereka. Tercapainya cinta yang
produktif merupakan salah satu dalam prestasi-prestasi kehidupan yang lebih
sulit. Kita tidak “jatuh” dalam cinta; kita harus berusaha sekuat tenaga karena
cinta yang produktif menyangkut empat sifat yang menantang – perhatian,
tanggung jawab, respek, dan pengetahuan.
b. Pikiran yang
produktif meliputi kecerdasan, pertimbangan, dan
objektivitas. Pemikir yang produktif didorong oleh perhatian yang kuat terhadap
objek pikiran. Pemikir yang produktif dipengaruhi olehnya dan memperhatikannya.
c. Kebahagian adalah
suatu bagian integral dan hasil kehidupan yang berkenaan dengan orientasi
produktif; kebahagian itu menyertai seluruh kegiatan produktif. Fromm
menuliskan bahwa suatu perasaan kebahagian merupakan bukti bagaimana
berhasilnya seseorang “dalam seni kehidupan”. Kebahagian merupakan prestasi
kehidupan yang paling luhur.
d. Suara
hati memiliki dua tipe, yakni suara hati otoriter dan suara hati
humanistik. Suara hati otoriter adalah penguasa yang berasal dari luar yang di
internalisasikan, yang memimpin tingkah laku orang itu. Sedangkan suara hati
humanistis ialah suara dari dalam diri dan bukan juga dari suatu perantara dari
luar diri. Pendoman kepribadian sehat untuk tingkah laku bersifat internak dan
individual. Orang bertingkah laku sesuai dengan apa yang cocok untuk berfungsi
sepenuhnya dan menyikapi seluruh kepribadian, tingkah laku-tingkah laku yang
menghasilkan seluruh persetujuan dan kebahagian dari dalam. Kesehatan jiwa
dalam pandangan Fromm di tetapkan oleh masyarakat, karena kodrat struktur
sosial membantu atau menghalangi kesehatan psikologis. Apabila
masyarakat-masyarakat yang sakit, maka satu-satunya cara untuk mencapai
orientasi produktif ialah dengan hidup dalam suatu masyarakat yang waras dan
sehat, yaitu masyarakat yang memajukan produktivitas.
- Ciri-ciri
kepribadian yang sehat
Fromm mengemukakan lima kebutuhan
yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan.
1. Hubungan
Manusia
menyadari hilangnya ikatan utama dengan alam dan dengan satu sama
lainnya. Kita mengetahui bahwa kita masing-masing terpisah sendirian dan tak
berdaya. Sebagai akibatnya, kita harus mencari ikatan-ikatan baru dengan
orang-orang lain; kita harus menemukan suatu perasaan hubungan dengan mereka
untuk menggantikan ikatan-ikatan yang hilang dengan alam. Fromm percaya bahwa
pemuasaan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang lain ini sangat
penting untuk kesehatan psikologis. Tingkah laku yang irasional, bahkan
penyakit jiwa, merupakan akibat yang tidak dapat dielakan karena kegagalan
dalam memuaskan kebutuhan ini.Dalam sistem fromm, orang-orang yang tidak dapat
mengamati dunia secara objektif, yang dapat mengamatinya hanya menurut
proses-proses batin, telah mengundurkan diri kedalam diri mereka dan kehilangan
seluruh kontak dengan kenyataan. Inilah definisi tradisional tentang penyakit
jiwa.
2. Trasendensi
Trasendensi berhubungan erat dengan
kebutuhan akan hubungan seperti kebutuhan manusia untuk mengatasi atau
melebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Karena menyadari kodrat
kelahiran dan kematian aksidental dan watak eksistensi yang serampangan,
manusia didorong untuk melebihi keadaan tercipta menjadi pencipta, pembentuk
yang aktif dari kehidupannya sendiri. Fromm percaya bahwa dalam perbuatan
menciptakan (anak-anak, ide-ide, kesenian atau barang material) manusia
mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai
suatu perasaan akan maksud dan kebebasan.
3. Berakar
Hakikat dari
kondisi manusia seperti kesepian dan tidak berartihal ini timbul dari pemutusan
ikatan-ikatan utama dengan alam. Tanpa akar-akar ini orang tak akan berdaya,
jelas merupakan kondisi yang amat berat. Cara yang ideal ialah membangun
suatu perasaan persaudaraan denag sesama umat manusia, suatu perasaan
keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan
solidaritas denagn orang-orang lain ini memuaskan kebutuhan akan berakar, untuk
yang mengkoneksikan dan berhubungan dengan dunia luar.
4. Perasaan
identitas
Manusia juga
membutuhkan suatu perasaan identitas sebagai individu yang unik, suatu
identitas menempatkannya terpisah dari orang-orang lain dalam hal perasaanya
tentang dia, siapa dan apa. Cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan ini
ialah individualitas, proses seseorang menciptakan suatu perasaan tertentu
tentang identitas diri. Orang-orang yang mengalami individualitas yang
berkembang baik mengalami diri mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka
sendiri, dan kehidupan mereka tidak dibentuk oleh orang-orang lain.
5. Kerangka
orientasi
Bersambung
dengan pencarian suatu perasaan diri yang unik ialah suatu pencarian frame
of reference atau konteks dengan mana seseorang menginterprestasikan
semua gejala dunia. Setiap individu harus merumuskan suatu gambaran konsisten
tentang dunia yang memberikan kesempatanuntuk memahami semua peristiwa dan
pengalaman. Dasar yang ideal untuk kerangka orientasi adalah pikiran,
yakni sarana yang digunakan seseorang untuk mengembangkan suatu gambaran
realitas dan objektif tentang dunia. Terkandung dalam hal ini ialah kapasitas
untuk melihat dunia secara objektif, untuk menggambarkan dunia denagn tepat dan
tidak mengubahnya dengan lensa-lensa subjetif dari kebutuhan-kebutuhan dan
ketakutan-ketakutan didalam diri.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar